Pindah Rumah
November 30th, 2008 by yuliawidiatiSaya tidak pandai ber”multitasking”, jadi saya hanya akan menulis di blog yang baru: http://yuliawidiati.wordpress.com Thanks and (maybe) cu there? ![]()
Saya tidak pandai ber”multitasking”, jadi saya hanya akan menulis di blog yang baru: http://yuliawidiati.wordpress.com Thanks and (maybe) cu there? ![]()
Setelah Padi dan Slank, kini giliran Peterpan manggung di the Bordeline, London pada tanggal 6 September 2008. Agak berbeda dengan waktu saya nonton Padi Oktober tahun lalu, tiket Peterpan juga dijual secara online. Harga tiket 15 pound sebenarnya tergolong mahal untuk pelajar seperti saya, tetapi kapan lagi bisa nonton Peterpan di Inggris. Tidak usah pikir lama akhirnya saya memutuskan untuk beli.
Saya pergi bersama teman yang bukan orang Indonesia, tetapi saya cukup “percaya diri” karena Peterpan selalu tampil bagus kalau live (dulu pernah nonton dan hampir mati tergencet sama penonton yang banyak sekali). Ketika antri menunggu pintu buka pukul 7 malam, saya melihat cukup banyak yang bukan orang Indonesia ikut antri di luar club. Malah saya sempat menjual tiket ke satu orang bule (perempuan) yang datang bersama teman-temannya karena ada teman saya tidak bisa datang.
Sebelum Peterpan tampil, pertunjukan dibuka dengan penampilan band bernama “Nicotine”. Band ini bukan band Indonesia. Mereka tampil menyanyikan beberapa lagu dan tampaknya ada masalah dengan sound system karena beberapa kali sang vokalis mengeluh. Band ini cukup bagus, tetapi penonton kurang begitu antusias, mungkin karena tidak sabar menunggu penampilan Peterpan. Penonton nya banyak sekali dan datang bukan hanya dari London dan bukan hanya pelajar. Ada yang datang dari negara eropa lain dan banyak juga yang tidak mengerti arti liriknya. Bukti bahwa musik itu memang universal!
Akhirnya Peterpan tampil di panggung. Mereka tampak senang sekali, dan seperti biasa Ariel, vokalis Peterpan, berinteraksi dengan akrab dengan penonton. Sayang dia tidak pakai bahasa Inggris, jadi saya harus menerjemahkan apa yang dia bilang ke teman saya (dan saya lihat, saya tidak sendirian. Jadi cukup heboh menerjemahkan diantara ributnya suasana di dalam club). Padahal waktu main di Korea mereka pakai bahasa Inggris lho.
Penampilan dibuka dengan lagu “Langit tak Mendengar” disusul “Di Balik Awan” dan “Menunggumu”. Koor penonton semakin menjadi-jadi ketika mereka memainkan lagu “Mungkin Nanti”. Setelah 4 lagu, Ariel bilang kalau mereka mau mainkan satu lagu berbahasa Inggris yang belum pernah mereka mainkan atau direkam di manapun, judulnya “Hero”. Menurut saya lagunya bagus. Memang liriknya tidak begitu jelas tapi musiknya bagus. Suara Ariel mengingatkan saya sama suaranya Kurt Cobain, vokalis Nirvana. Jadi menyesal tidak bawa kamera recorder (tapi kalau ada yang mau denger, ada yang sudah upload di youtube. Kalau penasaran, silahkan cari).
Setelah “Hero”, mereka mainkan “Ada Apa Denganmu”, “Sally Sendiri”, “Hari Yang Cerah”, “Menghapus Jejakmu”, “Di Atas Normal”, “Yang Terdalam”, “Tak Bisakah” dan “Topeng”. Di antara nyanyi, Ariel berinteraksi akrab dengan penonton. London memang dingin, tapi suhu di dalam club panas sekali. Ariel yang asalnya pake vest, setelah beberapa lagu langsung buka vest-nya. Uki juga membuka syalnya (yang sempat dipinjam Ariel untuk hapus keringat). Ariel beberapa kali mengeluhkan soal mike yang tidak berfungsi baik, dan sempat-sempatnya bicara pake bahasa Sunda. Setelah lagu Topeng, Peterpan meninggalkan panggung.
Tidak yakin kalau konser sudah selesai, penonton tetap tidak beranjak, apalagi Peterpan belum mainkan lagu baru. Benar saja, setelah beberapa lama Peterpan naik kembali ke panggung. Kali ini mereka mainkan lagu terbaru “Walau Habis Terang” (tanpa piano, karena pemain piano tidak bisa datang) dan penampilan mereka ditutup dengan “Semua Tentang Kita”. Setelah lagu selesai baru kami yakin bahwa ini lagu terakhir, apalagi Uki melempar pick gitar nya ke penonton.
Mau tahu siapa yang paling hafal lirik lagu dan heboh berjingkrak-jingkrak? Teman-teman dari Timor Leste. Tapi secara keseluruhan penonton nya asyik sih. Ikut nyanyi, ikut tepuk tangan, ikut jingkrak-jingkrak… termasuk yang tidak hafal lirik (termasuk saya). Lagipula, nonton pertunjukkan musik di London menyenangkan… ga ada yang merokok walaupun di dalam pub/bar, jadi tidak ada istilah sesak nafas dan mata perih.
Kesan saya secara keseluruhan adalah: konsernya bagus! Puas deh. Mudah-mudahan Peterpan bisa rilis album dalam bahasa Inggris dan tour dunia nya sukses
Ketemu seorang sahabat yang baru kembali buat selesaikan tesisnya. Senangnya. Dia salah satu teman berbagi cerita soal hidup dan bekerja di daerah konflik, walaupun dibandingkan dia, saya tidak ada apa-apanya deh. Dia dokter yang negaranya dilanda perang dalam beberapa tahun terakhir. Sementara saya dikejar deadline kurang dari 1 minggu lagi, dia “beruntung” dapat perpanjangan selama 3 minggu karena akses dia ke data diblok sama …. Ok, saya ga berhak buat bilang rasanya. Pokoknya dia stress dan kami menghabiskan waktu beberapa menit hanya membicarakan “hal-hal yang tidak masuk akal”. Makin gila aja nih dunia. Kalau sudah ngumpul sama teman-teman yang istilahnya kerja “in the front line”.. sering kepikiran…. Kenapa sih ada perang? Kenapa orang bisa bunuh orang lain?
Apa saya tertarik dengan konflik karena “kebetulan” kerja di tempat seperti itu, atau karena saya bekerja maka saya jadi tertarik soal konflik? Dunno which is which. Tapi setelah lebih dari 5 tahun mencoba belajar tentang ini…. Pelajaran paling berharga adalah ternyata tidak semua bisa diketahui oleh masyarakat umum. Saya setuju bahwa masyarakat secara umum berhak tahu dan belajar dari pengalaman dan sejarah sangat berharga, tapi isi kepala orang dan bagaimana bereaksi terhadap suatu hal itu berbeda. Belum lagi kalau ada “pemelintiran” berita. Cerita yang ga selesai, isu yang berubah jadi fakta, fanatisme yang membuat buta… sigh. Seram.
Standar yang berubah juga mungkin sulit diterima oleh keluarga dan teman. Pertama kali kerja saya masih takjub dengan beberapa hal ‘ajaib’ dan ingin berbagi cerita, tapi lambat laun saya sadar ini hanya menambah kecemasan di pihak mereka dan mengurangi sensitivitas di pihak saya. Akhirnya jadi jarang atau hampir tidak pernah cerita lagi. Saya ingat ditelepon kakak ketika keluarga di rumah menonton berita ada bom ditemukan salah satu tempat ibadah di dekat base saya (sementara versi kami, bom itu hanya bungkusan ga jelas dan tempatnya juga jauh pula). Tentunya saya tidak bercerita soal bom yang meledak hanya 50 m dari rumah kami, tentang didatangi tentara patroli pukul 4 pagi, tentang ditodong senjata gara-gara kemalaman datang dan berbarengan dengan isu akan ada penyerbuan, tentang truk yang mogok dan kami harus berjalan di black zone, tentang… wah, masih banyak deh. Cerita yang masih terekam kuat dan membuat saya menjadi saya yang seperti sekarang ini.
Waktu lagi kerjakan pelatihan tentang “principle approach to humanitarian action”, ada satu gambar yang benar-benar membekas di pikiran saya (masih banyak sih sebenarnya). Ada gadis kecil, cantik banget, sedang bersandar di tembok yang banyak lubang-lubang bekas peluru. Ketika di zoom-out, ya tuhan, kakinya hanya satu. Dia salah satu korban ranjau darat. Itu hanya satu contoh alasan kenapa saya mau tetap bekerja di tempat seperti itu, yang sampai saat ini masih belum dipahami oleh orang-orang terdekat saya.
Going back to the field. Soon.
…selalu sulit. Tadinya udah menetapkan hati dan mengambil keputusan. Tapi kok… tiba-tiba… ada kejadian lain.
Kalau kesempatan ini dilepas, belum tentu dapat lagi. Kalau diambil, gimana dengan mimpi gue yang lain…
Bingung.
Mengendalikan pikiran memang susah. Dua hari lalu sempat terlintas bahwa walau sudah hampir setahun di Inggris, saya belum pernah merasakan pelayanan NHS (National Health Services). Sebagai pelajar dengan masa sekolah lebih dari 6 bulan, saya mendapat fasilitas asuransi gratis dari NHS, hanya perlu registrasi di awal tahun ajaran. Dan bahaya-nya pikiran saya, itu akhirnya kejadian kemarin. Saya keracunan makanan 2 jam setelah makan siang, dan alhasil pergi ke A&E (Accidental & Emergency) di Euston Road, di sebelah UCL hospital.
Sedihnya tinggal sendirian di negeri orang (makanya, ga usah iri! Hehehe). Setelah muntah-muntah di sekolah, jalan pulang dalam keadaan teler, di rumah pun masih muntah-muntah. Sampai agak-agak dehidrasi gitu. Rasanya hampir sama seperti waktu keracunan mie kerang di Meulaboh (yang bikin kapok ga mau makan kerang sampai sekarang). Sambil terkapar di tempat tidur, mikir-mikir, mending ke dokter atau kaga. Sempat sih minum susu (dan muntah lagi) dan minum norit (dan muntah lagi). Jadi seperti cuci lambung hehe Mikir pergi ke dokter soalnya hari Jumat, dan Senin pun libur (Bank Holiday). Akhirnya memutuskan pergi, walaupun tahu pasti harus nunggu lama.
Ok, akhirnya saya mengakui bedanya negara maju dan negara berkembang (setelah selama ini saya ngomel-ngomel terus soal pelayanan publik di sini). Sistem pelayanan di klinik-nya bagus banget. Efisien. Tata ruang-nya efektif… Sistem triage-nya sip (semua harus lewat ini dulu). Nggak ada tuh anak-anak nangis di ruang tunggu, karena pasien anak punya jalur khusus. Saya pun tidak perlu bawa-bawa kartu, karena data-nya kan emang udah tersimpan (saya bisa datang ke klinik/rumah sakit mana pun). Bisa ditiru nih kalau seandainya nanti punya klinik. Heran kan, kok bisa-bisanya memperhatikan segala hal? Ya iyalah… nunggu hampir 3 jam gitu haha tapi untung juga, karena sekaligus observasi kondisi sendiri, yang ternyata jauh membaik setelah 2 jam.
Waktu dipanggil periksa, dokternya udah ga percaya tuh saya sakit. Malah kita berdua akhirnya ketawa-ketawa membahas makanan kantin sekolah. Sempat juga tes kehamilan (walaupun saya udah jawab “very very certain” hahaha). Lumayanlah, tes kehamilan gratis hehe Tapi bersyukur banget bahwa saya baik-baik saja. Soalnya banyak banget kerjaan yang menunggu.
Btw, perawat-nya (cowok) keren banget *wink wink*…. Harusnya dia ikut main di serial ER
Lagi bincang-bincang soal “buah tropis”, dan tentunya kami membahas durian. Kata satu teman yang pernah backpacking di Indonesia: “fruit with horrible smell and horrible taste” –tapi dia juga belum nyoba sih, keburu takut duluan hehe saya sebagai pencinta berat durian jelas ga terima. Durian itu enak banget lagiiiiii…. Kalau jalan ke tempat yang jual durian, pasti saya cari. Dulu pernah bela-belain keliling-keliling pake becak di Makassar dan sempat jalan jauh banget di Manokwari buat makan durian.
Rekor makan durian terbanyak waktu di Maluku. Waktu itu lagi musim-musimnya dan yang jual durian banyak banget, malah kadang sampai ga dijual, mereka kasih begitu aja. Rekor makan terbanyak yaitu 10 buah hehe iya, 10 buah durian beneran (masa musti dibilang 10 kepala?), bukan 10 potong. Kalau ga salah waktu itu lagi pengobatan di pesisir Maluku, dan selain ada yang kirim durian, setiap lapor ke Pak Raja (kepala desa) pasti kami dikasih durian. Jadi saya dan teman-teman satu tim malah senang banget keluyuran di kampung-kampung, lumayan dapat durian gratis. Enak banget lagi. Ukuran sih ga besar, tapi manis banget dan bijinya kecil.
Saya jadi teringat sama satu kolega yang sama-sama bertugas di Maluku, tapi dia ga keliling. Base nya dia di Wamsisi, Buru Selatan. Dokter “gila” ini dekat banget sama masyarakatnya, dan sering banget kumpul-kumpul sama mereka termasuk begadang malam-malam nungguin durian jatuh (hey, apa kabar Pak Dok? Kabarnya udah sekolah lagi ya?). Waktu saya ada jadwal pengobatan di daerah yang masih masuk daerah tanggung jawabnya, kami mampir ke Wamsisi. Biasa lah, labuh jangkar dan berniat besok paginya aja baru lapor. Tahu-tahu pagi-pagi ada kehebohan gitu. Kirain ada Emang Nelayan mau jual ikan, tahunya dia datang pake sampan sambil bawa durian sebanyak 7 KARUNG! Ya ampun, langsung kami sambut dengan suka cita. Kalau ga salah sempat juga kami berfoto dengan durian-durian itu (cuma karena masih jaman kamera analog, musti dicari nih klise dan foto aslinya). Yang jelas, instruksi saya waktu itu sangat jelas: jangan sampai ada satu pun yang terbawa ke Ambon, atau dalam kata lain…. Ayoooo habiskan, kita pesta!
Dan misinya berhasil, karena teman-teman di Ambon ngomel-ngomel ketika kami ceritakan soal kiriman durian ini.
Pengen makan durian jadinya. Di Bandung lagi musim ga?
Catatan: fotonya waktu berburu durian di Manokwari.
Ok, pake fleece di musim panas mungkin terdengar absurd. Tapi suhu akhir-akhir ini turun jadi sekitar 13 derajat, bahkan beberapa hari lalu sempat hujan es. Kemaren pas pulang lewat taman, angin kencang banget dan daun-daun pada berguguran… sampe bingung, jangan-jangan udah musim gugur nih? Untung pake fleece. Malah terpikir besok-besok musti pake syal, tapi kayaknya berlebihan hehe
Sudah hampir 1 tahun di sini, bulan depan pulang! Cihuy… sebenarnya kalau dibilang kangen, ngga juga. Paling beberapa waktu di Bandung pasti udah gelisah ingin pergi lagi. Kangen nasi jelas tidak, karena sering banget makan nasi, hampir tiap hari malah. Kangen teh botol, iya! Kangen gorengan, iyaaa! Tepatnya kangen makanan-makanan ga sehat hehe di sini kan orang tergila-gila makanan sehat. Sampai telur aja harus “free-range”… tahu kan maksudnya? Itu lho, ayam-ayam petelur itu bebas berkeliaran dan bertelur di mana saja, dan hanya boleh dikandangkan pada waktu malam. Konsumen ga akan mau beli kalau tahu ayam-ayam petelur itu tinggal bersempit-sempit di kandang hehe hebat kan!
Saya termasuk yang sering bepergian. Kalau istilah yang diberikan seorang teman, setelah 6 bulan biasanya terkena gatal-gatal dan timbul gaduh gelisah hehe nah, pikir-pikir, ternyata saya punya sifat yang “kurang menguntungkan” sebagai seorang traveller, yaitu gampang betah dan gampang dekat dengan orang, jadi tiap mau pergi bawaanya sedih :p Sifat jelek lain? Benci packing! Dan ini diperparah dengan hobi beli buku dan mengumpulkan memento ke mana pun saya pergi.
Mungkin tepat kalau saya beri istilah “sindroma mau pulang” karena gejala-gejalanya biasanya sama: ricuh selesaikan kerjaan yang sekarang (saat ini: selesaikan dissertation yang udah bikin stress berminggu-minggu lamanya), pusing dengan mengirim barang terutama buku-buku ke rumah ortu di bandung (ada minimal 40 buku yang saya beli selama di sini), kasih barang ke charity, recycling barang-barang, nutup rekening bank, farewell parties (ini bentuk jamak) alias pamitan sama teman-teman, mendatangi tempat-tempat yang wajib dikunjungi (mumpung di sini), atur jadwal perjalanan termasuk beli tiket dll….wah, banyak deh pokoknya! Udah sering seperti ini tapi tetep juga masih ricuh. Ohya, ada satu lagi deng…persiapan mental buat hubungan jarak jauh hehehe :p
Pertanyaan lanjutannya adalah : kalau tercapai, terus apa? Kalau tidak, memangnya kenapa ?
Ini topik obrolan yang “mengusik” karena curhat seorang teman. Dia (perempuan) sedang bingung setengah mati karena impiannya sedari kecil adalah menjadi menteri kesehatan di negaranya. Dia teman sekelas di sini, disekolahkan oleh negaranya (kalau di Indonesia mungkin dikirim oleh Depkes). Usia masih muda, pintar dan pekerja keras. Peluang untuk jadi menteri kesehatan terbuka lebar untuknya. Siapa menduga, di sini dia “dekat” dengan seseorang yang bukan hanya beda negara, bahkan beda benua. Visi dia jadi tidak jelas. Bingung. Sedih memikirkan bahwa orang terdekatnya lah yang mungkin akan menghancurkan impiannya.
Salahnya dia, dia mengobrol dengan saya hehe tetapi jangan menuduh saya “meracuni” dia supaya tetap berjuang meraih impian masa kecilnya itu. Ga kok, justru saya punya pandangan yang berbeda.
Saya adalah seorang pemimpi. Prinsipnya, tidak mungkin ada yang menciptakan pesawat terbang kalau tidak ada orang yang bermimpi bisa terbang. Tidak ada yang tidak mungkin. Yang jadi persoalan hanya waktu… entah kapan. Saya tak pernah menduga kalau “khayalan” di masa kecil supaya bisa menatap lawan bicara sambil mengobrol di telepon sekarang adalah nyata. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang “di luar jangkauan akal”
Menurut saya, persoalan utama adalah….. apakah kita ingin mencapai apa yang kita inginkan, atau kita mendapatkan apa yang terbaik yang bisa kita dapat? Dua hal yang berbeda. Ada kepuasan ketika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi apakah rasa itu tetap sama kalau kita tahu, sebenarnya yang terbaik buat kita bukan hal “yang ini”?
Mantan bos saya selalu bilang “there’s always a room for improvement”. Buat saya, mimpi itu penting sehingga saya punya visi ke mana saya akan pergi dan misi mau apa saya dalam hidup ini. Tetapi saya menyediakan ruang untuk perubahan. Bagaimanapun yang konstan dalam hidup ini adalah perubahan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini dan itulah “the art of life”. Living life to the fullest.
Lagi istirahat makan siang, makan nasi seafood bumbu Cajun. Di sebelah ada teman yang juga lagi makan siang. Belum kenal lama sih (soalnya beda bagian), tapi orangnya asyik.
(*percekapan diterjemahkan bebas*)
C: gimana kabarnya?
Y: baik… yaa, ga juga sih, ya gitu deh
C: lho, kok ga jelas? Memangnya projeknya bermasalah?
Y: sebenarnya ga juga, cuma gini nih kalau kebiasaan menggampangkan sesuatu
ternyata susah banget nih, apalagi analisis statistiknya
C: hehe iya, tapi yakin nanti pas kita selesai pasti kita jadi jago banget dan layak lah buat lulus. Memangnya kamu latar belakangnya apa?
Y: dokter, dan sebenarnya paling payah soal angka-angka :p
C: (*senyum-senyum pengertian*)
kamu ga rindu sama pasien-pasien kamu?
Y: hm, susah juga jawabnya, soalnya saya udah lama ga pegang pasien… udah 3 tahun lebih. Kalau kamu?
*menuduh, siapa tahu dia juga dokter*
C: wah, saya sih rindu banget. Pengen cepet-cepet balik…
(*nah, untung tuduhan saya benar!*)
Y: Memangnya sebelum ke sini kamu kerja di mana?
C: kerja di pedalaman, dekat amazon, dokter umum. Udah sekitar 3 tahun….
Sumpah, sampai di sini saya langsung lupa makan. Iriiiiiiiiii banget
Y: Waaaah, kalau begitu kita harus tetep kontak-kontak ya. Siapa tahu nanti saya ke sana, berkunjung
C: oh ya, dengan senang hati, nanti saya kasih alamatnya….
Hu hu hu…. Memang manusia ga pernah puas ya? Sekarang saya iriiiiii banget sama dia
PS. Kue coklat-nya enak. Gracias, C!

Kalo ada yang sempat melihat foto saya sedang berjalan di antara bunga-bunga biru bersama seorang anak kecil… ya, saya perkenalkan, namanya Ananda. Pintar dan cantik sekali. Bapak dan ibunya orang Italia
Ibunya salah seorang sahabat dekat saya di sini, dan anaknya memang cukup dekat dengan saya. Bahasa inggris dia bagus karena dia memang ikut pre-school di sini. Tapi saya sendiri sering bacakan buku anak-anak berbahasa Italia untuk dia….walau kadang hanya mengerti satu dua kata dan Ananda sering betulkan logat saya ketika bacakan cerita.
Saya senang sekali anak-anak. Bermain dengan anak-anak menurut saya adalah anugrah. Waktu masih kerja dulu, di luar waktu kerja saya sering bermain dengan anak-anak tetangga bahkan anak-anak di camp pengungsi dan daerah slum. Tapi bermain dengan dia membuat saya “takut”. Seperti juga ketika bermain dengan keponakan-keponakan, termasuk “keponakan” yaitu anak dari teman-teman dekat. Ada perasaan bertanggung jawab, perasaan senang sekaligus juga “lega” bahwa tanggung jawab saya hanya untuk beberapa saat saja. Bagaimanapun yang bertanggung jawab penuh selama 24 jam kan orangtua mereka.
Saya katakana hal ini kepada teman-teman saya. Menjadi orangtua itu menakutkan. Teman-teman saya tergelak-gelak. Malah ada yang berkata (*terjemahan bebas*): “waaah, kamu…yang sering bertualang di daerah-daerah konflik dan bencana, berhadapan dengan tentara dan suku-suku terpencil… takut jadi orangtua?” dan “saya pikir kamu orang yang suka tantangan, masa tidak berani untuk tantangan yang ini?”
Hmmm hmmmmm…….