Last Field Trip
Saturday, July 14th, 2007Dimulai hari Rabu,11 Juli. Rencana mau pergi ke 2 puskesmas, 2 polindes dan 1 posyandu. Waktu ada razia di dekat tugu merah, dengan gugup sopir bilang SIM dia ketinggalan di mobil yang satunya lagi. Teman-teman di dinkes langsung melirik ke gue karena gue pasti murka berat :p Untungnya kita buka kaca mobil dan tersenyum manis kepada bapak polisi. Akhirnya Pak Polisi baik ini cuma bilang: “Lain kali bawa SIM ya, itu sangat vital”. Fiuuh.. tapi ini belum selesai. Karena ricuh dengan razia, sopir jadi lupa isi bensin, dan terpaksa isi bensin di kios bensin pinggir jalan. Seperti biasa, ketika mood udah jelek, biasanya merembet. Jalan yang menuju posyandu yang mau kita kunjungi memang jelek sekali. Ada satu titik yang emang agak parah, ditambah sopir yang tidak pede bawa mobil. Alhasil, mobil tertancap di lumpur
Gue yang sok-sok ngasih instruksi sama sopir malah kejeblos lumpur sampai mata kaki. Untungnya datang pertolongan dengan datangnya 4 tukang ojek. Setelah mereka membantu mendorong mobil sampai lepas dari kubangan, mereka antar kita ke tempat posyandu. Ibu-ibu kader kaget melihat gue yang seperti habis membajak sawah hehe jadi gue diantar ke rumah untuk bersih-bersih. Terimakasih ya bu!
Hari Kamis, 12 Juli. Sopir hari Rabu kita black list ;p Yang sekarang bapak yang sudah berumur dan sopan, dan cukup menghibur kita dengan memberi masukan mop-mop
Kami sukses lewat razia polisi karena semua lengkap (ya iya lah, karena tadi kita sudah lakukan pemeriksaan pendahuluan hehe) Tapi jalan nya eee, ampuun, parah banget. Gue heran dengan yang punya proyek jalan ini, kok aneh banget cara bikinnya. Jarak yang cuma 48 km ditempuh dengan waktu lebih dari 2 jam dan badan sakit-sakit. Untungnya perjalanannya bermakna, karena gue berhasil ketemu semua bidan dan kepala plus staf puskesmas. Tentu saja juga mendengarkan cerita mereka. Melihat mereka dikirim alat-alat lengkap sampai ada inkubator keren, padahal puskesmas ini tidak ada listrik, tidak ada air dan bangunan nya pun tidak layak hehe negeriku tersayang yang ”lucu”. Pulang dari puskesmas kita makan siang (sore sih sebenarnya) di salah satu tempat favorit counterpart gue, di warung nasi pecel. Habis makan, Pak sopir mengeluarkan dompet dan mau bayarin kita makan! Gue sampai bengong.. Lah bapak ini, rental aja belum dibayar kok udah mau bayarin makan
No, tengkyu pak…
Hari Jumat, 13 Juli. Kami mau ke 2 puskesmas yang jauh dan jalannya juga susah (Yang bilang kalau Sorong hanya tempat sepanjang pesisir itu bohooooong ;p) Gue cukup takjub karena teman-teman ini bawa nasi bungkus dan lauk pauk lengkap, dan air mineral dalam dus. Tambah menu khusus buat gue karena gue kan semi vegetarian (hiks, jadi terharu :,) ) Tapi kok kayak mau piknik? ;p "nanti kita bisa kelaparan karena di sana ga ada tempat makan, dok" Kali ini kita pakai L-200, dobel gardan. Jadi nostalgia field trip di Aceh karena mobilnya persis sama. Biasanya mobil-mobil ini dipakai ke Teminabuan, Sorong Selatan. Hebat ga sih, mobil mahal gini dipakai jadi angkot
Duaratus ribu kalau duduk di dalam, 100 ribu kalau duduk di luar. Bonus hujan dan debu buat penumpang. Bonus denda buat sopir kalau ada penumpang yang celaka hehe teruskan cerita, kita harus mampir di pos penjagaan karena jalan tembus ini sebenarnya jalan milik perusahaan. Kalau tidak lewat darat, pake jalan laut bisa juga sih, sekitar 3-4 jam. Tapi ogah banget berlayar minggu-minggu ini, orang ombak lagi tinggi dan angin kencang banget. Ga masalah lah harus urus izin lewat. Eh, waktu lagi nunggu pak sopir lapor, kita rasa kok musik dari tape keras banget. Waktu suaranya mau dikecilkan, entah kenapa teman yang di depan malah bikin suara makin kencang. Semakin gugup, suara semakin kencang. Sampai lebih dari angka 50 dan kita di belakang tutup telinga
Panik berat. Akhirnya teman di sebelah pijit tombol radio, jadi suara ganti menjadi suara mendesis keras. Lumayan lah. Sopir lalu datang sambil cengengesan melihat kami yang panik. Maafkan kami yang gaptek ini…
Di 2 puskesmas ini lebih ”lucu” lagi. Percaya ga ada lulusan SMEA bisa jadi kepala puskesmas? Bisa lho
anyway, ini emang field trip terakhir gue sebelum cabut dari sini. Salah satu yang bikin gue betah kerja di antah berantah ya field trip. Everyday is a holiday