Archive for April, 2008

Memilih

Sunday, April 27th, 2008

Maluku_picture_150_2

Maaf, postingan ini agak “berantakan” karena terlalu banyak ide di kepala tapi sulit menuangkannya.
Teman-teman bilang saya “picky”.. ya iya lah, memangnya memutuskan sesuatu itu gampang? Memilih itu berarti sudah tahu konsekuensi yang bakal ditanggung, termasuk yang baik dan buruk. Kalau singkatnya sih: sudah satu paket. Ga seru dong kalau hanya ingin yang senang-senangnya saja, walau pastinya udah pakai berdoaaa… semoga… semua baik-baik saja :)
Topik ini terlintas gara-gara obrolan bersama teman-teman di sini saat makan. Awalnya sih ngobrol soal kebiasaan traveling : seperti… hayooo kamu tipe seperti apa ? Apa tipe yang selalu melakukan riset terlebih dahulu, plus tanya-tanya dan kontak orang-orang untuk meminimalkan kejadian tak diinginkan? Atau tipe yang pilih tempat, packing, terus pergi ke stasiun (bis, kereta) atau airport dan melakukan perjalanan secara spontan? Atau kedua-duanya? Ternyata jawabannya bermacam-macam lho… Yang menarik, hampir semua (atau bisa dibilang semua) teman saya itu ya emang traveler. Udah keliling berbagai tempat di dunia tapi masih saja iri dengan pengalaman orang lain hehe Bisa-bisanya si teman yang udah jalan mencoba Inca Track di Macchu Piccu bilang merasa iri untuk wisata kuliner di Asia :) Sifat dasar manusia sih, tapi kan kita ga mungkin memperoleh segala yang kita inginkan.
Nah, gara-gara obrolan itu lah kami membahas soal “memilih”
Jadi sebenarnya terlalu banyak pertimbangan sebelum memilih itu menguntungkan atau merugikan sih? Tergantung. Beberapa hal menarik yang disimpulkan dari pembicaraan kami adalah, memilih itu selalu sulit :D Terlalu banyak keinginan, terlalu banyak pilihan. Dan seperti tadi sudah dibilang, semua ada konsekuensinya. “when I was younger…” (maaf, saya diprotes ketika bilang ‘when I was young’, terutama oleh mereka yang sudah beruban dan umur kepala 4 atau 5. Kalau diterjemahkan secara bebas, komentarnya adalah: “Maksud lo?” Padahal saya memang sudah merasa tua lho…) … lanjutkan lagi, dulu-dulu memilih rasanya “lebih” gampang. Banyak keinginan dan rencana, dan tinggal kerjakan mana yang lebih dulu. Seiring bertambah umur, konsekuensi makin rumit, apalagi setelah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita berangsur-angsur dipanggil yang kuasa. Dan ada makhluk-makhluk baru yang menghiasi hidup kita dengan keajaiban di setiap harinya. Memilih menjadi suatu hal yang tak terhindarkan, dan selalu membutuhkan energi besar untuk melakukannya.
Walau sering kali bertindak impulsif, saya termasuk orang yang “picky”. Yaah, kalau ternyata pilihannya salah, dinikmati saja. Namanya juga manusia. Makanya perlu banyak-banyak berdoa kan. Kadang proses lebih penting dari hasil akhir (memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi sebenarnya?)
Sebagai penutup, kami sempat bikin “kuis” soal alat transportasi yang paling digemari. Saya paling senang naik kapal laut. Yup, bener, kapal laut. Ga ada yang bisa ngalahin perasaan saat jangkar ditarik, terus meninggalkan pelabuhan. Terus sendirian di tengah laut (saya paling doyan duduk sendirian saat teman-teman lain sudah terlelap), hanya dikelilingi garis cakrawala. Memulai hari dengan sunrise dan ditutup dengan sunset. Kadang laut tenang bagai kaca, kadang juga badai. Membaca peta, melihat kompas, mengarahkan kemudi. Kemudian melihat garis pantai untuk pertama kali, berarti ada kehidupan yang lain, bertemu orang baru, beristirahat untuk kemudian bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali. Yup, life, itself, is a journey. Dan bersyukurlah kalau kita masih diberi kesempatan untuk memilih, karena banyak orang yang tidak mendapatkan keberuntungan itu. 

Hit the Woods…. Ruislip Woods

Sunday, April 20th, 2008

20080419_london07

Setelah mengunjngi museum, pameran lukisan dan foto,
mengunjungi gedung-gedung tua dan atraksi lainnya, akhir minggu kemarin saya
diajak teman untuk berjalan-jalan di “hutan”. Kami bertiga sepakat untuk
berjalan daerah Hillingdon, tepatnya di tempat bernama "Ruislip Woods and Lido"  Agak jauh sih, ada di zone 6. Jadi, Sabtu pagi,
saya berjalan kaki ke King’s Cross tube station (sekitar 5 menit), lalu
menggunakan metropolitan line dan
turun di Ruislip Manor (sekitar 45 menit). Sudah
masuk musim semi tapi masih dingin. Ramalan cuaca sih bilang bakal hujan, tapi
mengingat ini adalah Inggris, jadi kesempatan untuk cuaca cerah masih ada :)

Mark tentu saja sudah mempelajari buku petunjuk dan
peta-nya. Asyik juga jadi “parasit” karena hanya tinggal jalan saja. Kata dia
sih, kami bakal berjalan sekitar  11 km, mulai dari melintasi rumah-rumah gaya Inggris (dengan bata
merah dan cerobong asap) dan kemudian masuk ke area reservasi Ruislip Woods
itu. Karena kami berjalan dengan cukup cepat, jadi suhu tidak terlalu terasa
dingin (mungkin  sekitar 8 derajat). Benar-benar menyenangkan menghirup udara
segar dan berpapasan dengan orang-orang yang “lebih ramah”. Kami juga sempat
melihat kereta api uap yang melintasi kawasan ini.

Di tengah-tengah perjalanan kami sempat tersesat. Di buku
disebutkan bahwa rel kereta api akan berada di sebelah kanan kami, jadi kami
bingung ketika menyadari bahwa rel ada di sebelah kiri. Semakin lama jalan, kok
semakin aneh. Untung ada ibu-ibu yang sedang bawa jalan dua anjingnya yang
memberitahu kami arah yang sebenarnya, walau ternyata tetap beda jalur juga
sih. Bukan masalah besar, tapi kami (saya dan Carla, istri Mark) sempat
menggoda Mark bahwa untuk ujian baca peta dia gagal mendapat A! hihi

Ohya, soal anjing lain lagi ceritanya. Saya memang tidak
takut anjing, tapi kalau anjing tinggi yang loncat-loncat mau jilat muka sih
beda masalah (apalagi saya kan pendek). Dan hari itu banyak sekali anjing-anjing yang “bersemangat” karena jarang melihat orang lain selain tuan tuan mereka. Malah, sempat waktu kami mau
rehat sejenak dan makan croissant di satu meja piknik dekat danau, tiba-tiba
kami dikelilingi oleh sekitar 6-7 anjing! Memang mereka cukup terlatih dan
tidak  mengganggu. Mungkin karena mencium bau makanan saja. Untung tak lama
anjing-anjing itu dipanggil oleh para pemiliknya.

Setelah menyelesaikan rute perjalanan, kami berjalan kembali
ke Ruislip Manor untuk pulang kembali ke central London. Gara-gara sibuk mengobrol, lagi-lagi
kami salah belok sehingga tiba-tiba menemukan sebuah gereja kecil (yang baguuus
sekali) yang tidak kami temui dalam perjalanan awal. Namun kali ini kami tidak
perlu bertanya, karena petunjuk dan papan jalan yang ada cukup jelas. Dari
Ruislip Manor saya kembali ke King’s Cross dan berpisah dengan Mark dan Carla. Perjalanan
yang menyenangkan!

Buying book

Friday, April 11th, 2008
I’ve got email: My favourite 2nd hand bookshop is closing down next week:
Quinto
63 Great Russell Street
(opposite British Museum)
 
All books half price, last day of trade Wednesday 16th April

Ouch! And British Museum is only 20 minutes walk from my dormitory. I must go! I completely forgot my promise to myself to stop buying books. I bought 3 books already this week, and I have more than 20 books in my bookself :D Well, I have to think how to send all those books to my home later on (and that still 6 months to go), but it can wait, eh? Let’s go hunting!!!

Lowongan Pekerjaan

Wednesday, April 2nd, 2008

Ada sederet pertanyaan
standar buat orang-orang Indonesia,
terutama yang sudah berumur: Sudah menikah? Sudah punya anak? Dan kalau kita
bilang ”belum”  (jangan coba-coba jawab “tidak”
hehe).. biasanya akan bertambah dengan “kenapa?” dan sederet pertanyaan
lanjutan hahaha sebenarnya bukan hanya di Indonesia, tapi kayaknya di negara-negara
barat sini ga sih… katanya ga sopan, makanya saya cukup senang di sini hehe :D

Tapi buat saya, ada pertanyaan standar lain yang semakin
sering saja dilontarkan teman-teman dan keluarga: “Kapan pulang? Nanti mau
kerja di mana?” Lama-lama males juga jawabnya, walaupun yang nanya beda-beda. Soalnya
nambah topik yang musti dipikir, kayak sekarang belum cukup sibuk saja.

Ok, jadi jawabnya: sekolah selesai September minggu ke-3,
tapi rencana pulang oktober awal. Kerja di mana? Belum tahu karena saya
sekarang statusnya pengangguran hehe Pastinya sih pulang ke Indonesia (walaupun tiap hari
dikirim lowongan pekerjaan jadi ekspat, menggiurkan! Tapi tetap berencana balik
ke Indonesia,
jangan khawatir).

Soal kebiasaan baca lowongan pekerjaan, sebenarnya lucu
juga, karena ternyata itu jadi salah satu kebiasaan “buruk” saya setelah lulus
jadi dokter dulu. Terutama baca kompas hari sabtu dan minggu hehe (sama kan? :) ) Dulu doyan
menggunting iklan, trus dipasang di kamar. Beberapa kayaknya masih ada di kamar
di Bandung,
kertasnya sampai sudah menguning. Dan kebiasaan itu ga berhenti sampai udah
beneran dapat pekerjaan, bahkan dulu ibu bos pernah usil nanya: kenapa kamu
selalu baca lowongan pekerjaan? Hehe ga tahu juga, tapi kadang seru sih, dan
ujung-ujungnya bisa kasih tahu ke teman. Siapa tahu jodoh mereka kan?

Balik lagi ke soal mau kerja di mana, tergantung apa ada
yang menawari pekerjaan. Tadi malam sempet chatting sama J soal kerja.
Alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menerima pekerjaan karena faktor uang,
yang penting enjoy. Uang Insya Allah akan datang dengan sendirinya kalau kita
berkerja baik, itu yang saya percaya. Soal enjoy pekerjaan… pikir-pikir,
ternyata saya paling senang waktu kerja di Maluku dulu. Soalnya saya cinta
sekali laut dan dapat kesempatan tinggal di atas kapal dan berlayar hampir setiap
hari. Impian jadi nyata, bisa keliling Maluku mulai dari Ternate sampe Banda
Neira, mulai dari Buru sampai Seram Timur… termasuk merasakan badai, melintasi
Laut Banda yang warnanya biru tua saking dalamnya, lihat lumba-lumba, paus
bahkan ikan duyung…. Lho, ini kerja jadi dokter atau agen perjalanan? Hahaha

Ya gitu deh… Nah, gimana, ada yang mau menawari saya
pekerjaan?