Archive for May, 2008

But for now…

Saturday, May 24th, 2008

But for now
Jamie Cullum

Sure I know you’d like to have me
Talk about my future
And a million words or so to fill you in about my past
Have I sisters or a brother
When’s my birthday how’s my mother
Well my dear in time I’ll answer all those things you ask

But for now I’ll just say I love you
Nothing more seems important somehow
And tomorrow can wait come whatever
Let me love you forever but right now
Right now

Some fine day when we go walking
We’ll take time for idle talking
Sharing every feeling as we watch each other smile
I’ll hold your hand you’ll hold my hand
We’ll say things we never had planned
Then we’ll get to know each other in a little while

But for now let me say I love you
Later on there’ll be time for so much more
But for now meaning now and forever
Let me kiss you my darling then once more
Once more

But for now let me say I love you
Later on I must know much more of you
But for now here and now how I love you
As you are in my arms I love you
I love you
I love you

Berpikir

Sunday, May 18th, 2008

London dingin sekali hari ini, dan hujan. Saya menggigil karena hanya menggunakan t-shirt dan sweater. Sok jago. Ramalan cuaca bilang temperatur hari ini sekitar
8 derajat. Gila. Setelah minggu lalu sempat 27 derajat dan 2 hari lalu drop
menjadi 12 derajat. Saya sudah cukup lelah dengan diri sendiri yang sangat
moody.. dan perubahan cuaca di sini
hanya memperparah kondisi saja. Sambil berjalan, dari sudut mata saya melihat
banyak orang yang merokok di luar gedung…
Tidak tertarik sama sekali.
Pikiran saya tidak berada di sini.

Dua hari lalu
saya dan 2 teman mengobrol seru sekali. Satu asal Kanada (A) dan satu asal Afganistan
(F). A baru kembali dari Oxford setelah mendapat panggilan interview dan melakukan
presentasi untuk salah satu tawaran perkerjaannya.. dan F bercerita tentang
diploma tropical medicine yang baru dia dapat (satu lagi contoh gila
teman-teman di sini… alih-alih “Easter break”, dia malah mengambil kursus singkat untuk ambil diploma ini).
Kebetulan saat itu saya sedang pakai
sweater dengan lambang salah satu lembaga PBB untuk anak-anak, jadilah kami
mengobrol mengenai rencana setelah lulus. Topik lama yang selalu baru. Namun
teman F ini memberikan opini yang membuat kami berpikir.

A menanyakan pendapat kami tentang tawaran pekerjaan yang
dia terima. Sebenarnya sangat menarik, tapi dia masih kurang sreg karena dia
inginnya bekerja untuk perencanaan, monitoring, evaluasi. Do the right thing since the very beginning. Dia memang pernah
bercerita soal proyek dia (nutrisi) dengan sebuah institusi pendidikan yang
kacau balau gara-gara tidak melakukan konsultasi dengan masyarakat. Bukan salah
dia kareana dia bergabung setelah proyek berjalan, tapi dia bisa dibilang
menjadi “martir” karena harus berhadapan dengan masyarakat dan menjelaskan
semua hal ketika keadaan menjadi parah. Nah, kalau F ini lain lagi. Saya salut
sama dia karena dia masih sangat sopan dan bijak walaupun kami tahu dia sangat
marah soal “invasi” yang terjadi di negaranya, bahkan sampai sekarang. F ini
dokter anak. Dia beralih ke public health karena dia melihat kebutuhan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dia bilang, walaupun punya rencana jangka panjang, dia tidak bisa berencana terlalu lama, misal 10 tahun. Harus fleksibel. Coba lihat apa yang terjadi di Afganistan dalam 5 tahun terakhir. Dia
ga bilang bahwa semua rencana dia berantakan… tapi dia bilang bahwa kita selalu
harus siap dengan perubahan. Suatu hal yang sangat diresapi kebenarannya
(apalagi kami berdua sama-sama belajar tentang “conflict and health” semester
lalu).

Mantan bos pernah “mengajari” saya menggambar peta soal
pilihan-pilihan hidup. Salah satu alasan kenapa sekarang saya ada di sini, dan
kemana kira-kira arah setelah lulus. Tapi entahlah, tadi malam banyak sekali
hal yang beradu dalam pikiran saya. Beberapa hal penting yang terjadi dalam
beberapa bulan terakhir membuat saya berpikir untuk mendisain ulang peta saya.
Tapi terus kemana? Bagaimana? Apakah saya berani? Apa saya siap?

Dan hujan masih saja turun dan saya masih  terus berjalan. Deep
sigh
.

Practice make perfect

Sunday, May 18th, 2008

Saya saat ini memang
mempunyai 2 buah hp. Satu siemens M55 yang saya beli tahun 2003 (untuk nomer
indonesia yang bisa roaming internasional) dan satu lagi siemens A70 yang saya
beli tahun 2007 di Sorong (untuk nomer inggris). Alasan ga ganti karena
sekarang siemens udah ga ada :) Ga sih, karena merasa ga perlu aja. Toh keduanya masih bisa dipakai dan saya ga merasa perlu dengan aplikasi-aplikasi
yang canggih.

Tapi kalau
kemampuan mengetik untuk sms, DULU saya terbilang jago. Mengetik lebih cepat
dengan tangan kiri, bahkan bisa mengetik sambil makan, sambil mengobrol, ngetik
sms berbeda dengan dua tangan (seperti jurus film silat).. pokonya parah
deh ! Sampai pernah jempol tangan kiri sakit karena kebanyakan  sms :D Kalau ga salah itu sehabis sms yang menghabiskan 70 ribu dalam sehari hehe

Nah, di sini saya
jarang sekali pake hp, termasuk sms. Alasan banyak… mahal, juga ga ada waktu
sih.
Jaraaaang banget pake hp. Kan nelepon ke indonesia pake phonecard (pake landline) yang murah banget. Sms temen… sms siapa ? Beda waktu bikin malas. Hubungi teman di
sini, lebih cepet pake email atau messenger. Jadinya  sering lupa punya hp,
kadang sampai berhari-hari mati karena ga di-caz juga tenang-tenang saja
(padahal kalo inget dulu bisa bete banget seandainya ga ada sinyal haha)

Kerugiannya,
kemampuan menurun drastis, hiks :( Tadi balas sms temen di indo… ya  ampun,
ngetik jadi lama banget. Pake mikir dan pake lama… jadi inget bapak/ibu yang
suka bikin gemes kalau sms karena ngetiknya lama banget. Nah, sekarang kena
batunya deh :p Terbukti memang berlatih itu perlu (tapi khusus untuk hal
ini, rasanya ga rugi juga kehilangan kemampuan ini. Untung malah, jadi ga boros
kan!)

Renungan

Sunday, May 11th, 2008

Ada hal menarik saat kuliah “tropical environmental health” beberapa hari yang
lalu. Pak pengajar memperlihatkan salah satu penelitian soal penggunaan “latrine”
atau toilet… salah satunya adalah: orang-orang yang tidak pernah melihat
kondisi lain selain yang dia lihat sehari-hari (bahkan mungkin seumur hidupnya)
akan terbiasa dengan kondisi yang dia hadapi, walaupun mungkin jorok dan
menjijikan bagi orang lain. Penelitian itu menunjukkan bahwa orang-orang yang
lebih “sadar” akan kebersihan dan perbaikan sanitasi biasanya adalah
orang-orang yang pernah bepergian ke tempat lain dan melihat kondisi yang
berbeda dan mengubah persepsinya terhadap sesuatu. Menarik (soalnya saya pikir
ini bukan hanya soal sanitasi, tapi gaya hidup secara umum).

Hal lain yang menarik adalah soal “ketidakpedulian” terhadap
sesuatu. Selama ini saya (bukan kita) lebih fokus pada daerah rural yang
cenderung kurang diperhatikan dan dipinggirkan (dan ini jelas terjadi untuk
banyak hal). Namun ternyata persoalan di daerah urban juga sama parahnya. Saya
tahu kalau daerah-daerah “slum” di perkotaan bukan merupakan tempat yang layak
huni, tapi saya jadi bingung memikirkan apa tindakan yang seharusnya diambil
pemerintah untuk memecahkan persoalan ini? Ilustrasi yang diberikan oleh
pengajar sangat mengerikan, karena dari daerah-daerah kecil itu, pencemaran air
tanah bisa sangat parah dan bahkan bisa mencemari satu kota atau lebih luas lagi. Jangankan mimpi
bisa minum air dari keran seperti di sini, punya air mengalir ke setiap rumah setiap
hari saja masih menjadi impian bagi sebagian besar penduduk. Saya membayangkan
tinggal di
Jakarta yang semrawut dan acapkali dilanda banjir, yang berarti: air limbah bercampur
dengan air tanah. Ada satu foto pengolahan air limbah di sini (yang akan kami kunjungi minggu depan).
Pada prinsipnya, di foto itu adalah proses pertama yaitu “pemisahan” air dari
sampah-sampah besar seperti botol-botol atau kantung plastik. Bapak itu bilang,
kalau di negara-negara berkembang bisa lebih banyak lagi, bahkan kadang ada
bayi yang tersangkut di situ…. Ooh, tidaaaaak (*bikin mual*)

Inggris termasuk negara yang sudah melakukan pengolahan
terhadap air limbah. Tapi duluuuu… sekitar tahun 1850-an, sungai Thames yang
terkenal itu pernah tercemar dengan sangat parah sehingga anggota parlemen
Inggris tidak bisa rapat karena tidak tahan dengan baunya (House of Parliament
letaknya tepat di pinggir sungai Thames). Juga
sebelumnya terjadi wabah cholera yang sangat parah. Singkat cerita,
dilakukanlah perbaikan sistem… dan beberapa “trial n error”… jadi sistem
pengolahan limbah dan suplai air bersih yang bisa langsung diminum ke rumah-rumah bukanlah suatu sulap yang terjadi dalam waktu singkat.

Kalau berpikir soal Ciliwung… atau Cikapundung di Bandung…. Masa
sih masih harus menunggu seratus tahun lagi? Tapi musti mulai dari mana? (Ga
usah bilang “mulailah dari diri sendiri bla bla bla"… karena, contoh,  kalau pun buang sampah dengan tertib tapi
terus ga ada sistem pengolahan yang benar, gimana dong? Sistemnya yang ga ada!)

Ini bukan omelan, hanya sebuah renungan (selingan saat
menulis essay untuk tropical environmental health)