Archive for July, 2008

Memangnya kalau punya mimpi, harus tercapai?

Thursday, July 31st, 2008

Pertanyaan lanjutannya adalah : kalau tercapai, terus apa? Kalau tidak, memangnya kenapa ?

Ini topik obrolan yang “mengusik” karena curhat seorang teman. Dia (perempuan) sedang bingung setengah mati karena impiannya sedari kecil adalah menjadi menteri kesehatan di negaranya. Dia teman sekelas di sini, disekolahkan oleh negaranya (kalau di Indonesia mungkin dikirim oleh Depkes). Usia masih muda, pintar dan pekerja keras. Peluang untuk jadi menteri kesehatan terbuka lebar untuknya. Siapa menduga, di sini dia “dekat” dengan seseorang yang bukan hanya beda negara, bahkan beda benua. Visi dia jadi tidak jelas. Bingung. Sedih memikirkan bahwa orang terdekatnya lah yang mungkin akan menghancurkan impiannya.

Salahnya dia, dia mengobrol dengan saya hehe tetapi jangan menuduh saya “meracuni” dia supaya tetap berjuang meraih impian masa kecilnya itu. Ga kok, justru saya punya pandangan yang berbeda.

Saya adalah seorang pemimpi. Prinsipnya, tidak mungkin ada yang menciptakan pesawat terbang kalau tidak ada orang yang bermimpi bisa terbang. Tidak ada yang tidak mungkin. Yang jadi persoalan hanya waktu… entah kapan. Saya tak pernah menduga kalau “khayalan” di masa kecil supaya bisa menatap lawan bicara sambil mengobrol di telepon sekarang adalah nyata. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang “di luar jangkauan akal”

Menurut saya, persoalan utama adalah….. apakah kita ingin mencapai apa yang kita inginkan, atau kita mendapatkan apa yang terbaik yang bisa kita dapat? Dua hal yang berbeda. Ada kepuasan ketika kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi apakah rasa itu tetap sama kalau kita tahu, sebenarnya yang terbaik buat kita bukan hal “yang ini”?

Mantan bos saya selalu bilang “there’s always a room for improvement”. Buat saya, mimpi itu penting sehingga saya punya visi ke mana saya akan pergi dan misi mau apa saya dalam hidup ini. Tetapi saya menyediakan ruang untuk perubahan. Bagaimanapun yang konstan dalam hidup ini adalah perubahan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini dan itulah “the art of life”. Living life to the fullest.

Makan siang

Thursday, July 24th, 2008

Lagi istirahat makan siang, makan nasi seafood bumbu Cajun. Di sebelah ada teman yang juga lagi makan siang. Belum kenal lama sih (soalnya beda bagian), tapi orangnya asyik.
(*percekapan diterjemahkan bebas*)
C: gimana kabarnya?
Y: baik… yaa, ga juga sih, ya gitu deh
C: lho, kok ga jelas? Memangnya projeknya bermasalah?
Y: sebenarnya ga juga, cuma gini nih kalau kebiasaan menggampangkan sesuatu :( ternyata susah banget nih, apalagi analisis statistiknya
C: hehe iya, tapi yakin nanti pas kita selesai pasti kita jadi jago banget dan layak lah buat lulus. Memangnya kamu latar belakangnya apa?
Y: dokter, dan sebenarnya paling payah soal angka-angka :p
C: (*senyum-senyum pengertian*)
kamu ga rindu sama pasien-pasien kamu?
Y: hm, susah juga jawabnya, soalnya saya udah lama ga pegang pasien… udah 3 tahun lebih. Kalau kamu?
*menuduh, siapa tahu dia juga dokter*
C: wah, saya sih rindu banget. Pengen cepet-cepet balik…
(*nah, untung tuduhan saya benar!*)
Y: Memangnya sebelum ke sini kamu kerja di mana?
C: kerja di pedalaman, dekat amazon, dokter umum. Udah sekitar 3 tahun….

Sumpah, sampai di sini saya langsung lupa makan. Iriiiiiiiiii banget
:(

Y: Waaaah, kalau begitu kita harus tetep kontak-kontak ya. Siapa tahu nanti saya ke sana, berkunjung
C: oh ya, dengan senang hati, nanti saya kasih alamatnya….

Hu hu hu…. Memang manusia ga pernah puas ya? Sekarang saya iriiiiii banget sama dia :(

PS. Kue coklat-nya enak. Gracias, C!

Menjadi Orangtua

Tuesday, July 22nd, 2008

Gorgeous_little_angel
Kalo ada yang sempat melihat foto saya sedang berjalan di antara bunga-bunga biru bersama seorang anak kecil… ya,  saya perkenalkan, namanya Ananda. Pintar dan cantik sekali.  Bapak dan ibunya orang Italia :) Ibunya salah seorang sahabat dekat saya di sini, dan anaknya memang cukup dekat dengan saya. Bahasa inggris dia bagus karena dia memang ikut  pre-school di sini. Tapi saya sendiri sering bacakan buku anak-anak berbahasa Italia untuk dia….walau kadang hanya mengerti satu dua kata dan Ananda sering betulkan logat saya ketika bacakan cerita.

Saya senang sekali anak-anak. Bermain dengan anak-anak menurut saya adalah anugrah. Waktu masih kerja dulu, di luar waktu kerja saya sering bermain dengan anak-anak tetangga bahkan anak-anak di camp pengungsi dan daerah slum. Tapi bermain dengan dia membuat saya “takut”. Seperti juga ketika bermain dengan keponakan-keponakan, termasuk “keponakan” yaitu anak dari teman-teman dekat. Ada perasaan bertanggung jawab, perasaan senang sekaligus juga “lega” bahwa tanggung jawab saya hanya untuk beberapa saat saja. Bagaimanapun yang bertanggung jawab penuh selama 24 jam kan  orangtua mereka.

Saya katakana hal ini kepada teman-teman saya. Menjadi orangtua itu  menakutkan. Teman-teman saya tergelak-gelak. Malah ada yang berkata (*terjemahan bebas*): “waaah, kamu…yang sering bertualang di daerah-daerah konflik dan bencana, berhadapan dengan tentara dan suku-suku terpencil… takut jadi orangtua?” dan “saya pikir kamu orang yang suka tantangan, masa tidak berani untuk tantangan yang ini?”

Hmmm hmmmmm…….

Pak Ayo Pergi

Sunday, July 13th, 2008

Yulia_4_006
Setiap lihat Pak Polisi di sini dengan helm hitam-nya yang khas, saya selalu susah payah menahan senyum. Bukan, bukan  karena tampang mereka aneh atau menggelikan, tetapi karena  kenangan saya pada “Pak Ayo Pergi” di serial “Pasukan Mau  Tahu” karya Enid Blyton yang saya baca waktu kecil. Saya belum pernah lho lihat  polisi bertampang konyol selama di sini. Yang ada mereka keren-keren dan yang patroli biasanya malah muda-muda (dan keren !). Pikir-pikir kok bisa ya Bu Enid bikin tokoh semacam Mr Goon itu? Waktu kecil, saya kasihan lho  sama dia. Sekarang juga. Memangnya gampang jadi polisi di desa kecil? Dengan anak-anak yang hobi kelayapan pula hehe yang jelas, dia ga korupsi. Kalau kurang pintar, ya gimana lagi… tapi kan bukan salah dia juga :)

Selama tinggal di sini, kadang saya takjub betapa hal-hal yang hanya bisa saya imajinasikan waktu kecil sekarang bisa saya lihat langsung. Kalau  rumah-rumah tradisional dengan bata merah dan cerobong asap, jelas. Taman-taman kecil dengan gereja yang indah, juga iya. Juga “English breakfast”
yang dirindukan setiap anak inggris setiap liburan sekolah… (guys, asli ini sarapan ‘berat’ banget… walau katanya sarapan nasi goreng telur itu berat, tapi mau komentar apa soal sarapan telur goreng, sosis, bacon, kacang merah, dan roti bakar?). Limun Jahe. “British weather” yang selalu bikin jengkel. British coast. Puri dan kastil yang menakjubkan. Kisah raja, ratu dan ksatria. Sekolah-sekolah berasrama di country side nya Inggris. Belum lagi kalau ditambah imajinasi saya saat baca Lord of the Ring dan Harry Potter. Daerah-daerah berakhiran “shire”. Atau sekedar jalan di stasiun King’s Cross dan berpikir… Harry Potter biasanya jalan lewat mana ya? Waah, pokoknya seru deh! Waktu  saya lagi jalan di taman dan mengobrol dengan seorang ibu yang lagi ajak  jalan-jalan anjingnya, ibu itu bilang gini: “kamu sama sekali tidak seperti orang asing. Kamu seperti sudah berada di sini bertahun-tahun lamanya”. Hm, menarik. Mungkin roh saya sudah ada di sini bertahun-tahun yang lalu hehe law of attraction? Who knows?