Menjadi Orangtua

Kalo ada yang sempat melihat foto saya sedang berjalan di antara bunga-bunga biru bersama seorang anak kecil… ya, saya perkenalkan, namanya Ananda. Pintar dan cantik sekali. Bapak dan ibunya orang Italia
Ibunya salah seorang sahabat dekat saya di sini, dan anaknya memang cukup dekat dengan saya. Bahasa inggris dia bagus karena dia memang ikut pre-school di sini. Tapi saya sendiri sering bacakan buku anak-anak berbahasa Italia untuk dia….walau kadang hanya mengerti satu dua kata dan Ananda sering betulkan logat saya ketika bacakan cerita.
Saya senang sekali anak-anak. Bermain dengan anak-anak menurut saya adalah anugrah. Waktu masih kerja dulu, di luar waktu kerja saya sering bermain dengan anak-anak tetangga bahkan anak-anak di camp pengungsi dan daerah slum. Tapi bermain dengan dia membuat saya “takut”. Seperti juga ketika bermain dengan keponakan-keponakan, termasuk “keponakan” yaitu anak dari teman-teman dekat. Ada perasaan bertanggung jawab, perasaan senang sekaligus juga “lega” bahwa tanggung jawab saya hanya untuk beberapa saat saja. Bagaimanapun yang bertanggung jawab penuh selama 24 jam kan orangtua mereka.
Saya katakana hal ini kepada teman-teman saya. Menjadi orangtua itu menakutkan. Teman-teman saya tergelak-gelak. Malah ada yang berkata (*terjemahan bebas*): “waaah, kamu…yang sering bertualang di daerah-daerah konflik dan bencana, berhadapan dengan tentara dan suku-suku terpencil… takut jadi orangtua?” dan “saya pikir kamu orang yang suka tantangan, masa tidak berani untuk tantangan yang ini?”
Hmmm hmmmmm…….