Archive for August, 2008

In the Front Line

Saturday, August 30th, 2008

Ketemu seorang sahabat yang baru kembali buat selesaikan tesisnya. Senangnya. Dia salah satu teman berbagi cerita soal hidup dan bekerja di daerah konflik, walaupun dibandingkan dia, saya tidak ada apa-apanya deh. Dia dokter yang negaranya dilanda perang dalam beberapa tahun terakhir. Sementara saya dikejar deadline kurang dari 1 minggu lagi, dia “beruntung”  dapat perpanjangan selama 3 minggu karena akses dia ke data diblok sama …. Ok, saya ga berhak buat bilang rasanya. Pokoknya dia stress dan kami menghabiskan waktu beberapa menit hanya membicarakan “hal-hal yang tidak masuk akal”. Makin gila aja nih dunia. Kalau sudah ngumpul sama teman-teman yang istilahnya kerja “in the front line”.. sering kepikiran…. Kenapa sih ada perang? Kenapa orang bisa bunuh orang lain?

Apa saya tertarik dengan konflik karena “kebetulan” kerja di tempat seperti itu, atau karena saya bekerja maka saya jadi tertarik soal konflik? Dunno which is which. Tapi setelah lebih dari 5 tahun mencoba belajar tentang ini…. Pelajaran paling berharga adalah ternyata tidak semua bisa diketahui oleh masyarakat umum. Saya setuju bahwa masyarakat secara umum berhak tahu dan belajar dari pengalaman dan sejarah sangat berharga, tapi isi kepala orang dan bagaimana bereaksi terhadap suatu hal itu berbeda. Belum lagi kalau ada “pemelintiran” berita. Cerita yang ga selesai, isu yang berubah jadi fakta, fanatisme yang membuat buta… sigh. Seram.

Standar yang berubah juga mungkin sulit diterima oleh keluarga dan teman. Pertama kali kerja saya masih takjub dengan beberapa hal ‘ajaib’ dan ingin berbagi cerita,  tapi lambat laun saya sadar ini hanya menambah kecemasan di pihak mereka dan mengurangi sensitivitas di pihak saya. Akhirnya jadi jarang atau hampir tidak pernah cerita lagi. Saya ingat ditelepon kakak ketika keluarga di rumah menonton berita ada bom ditemukan salah satu tempat ibadah di dekat base saya (sementara versi kami, bom itu hanya bungkusan ga jelas dan tempatnya juga jauh pula). Tentunya saya tidak bercerita soal bom yang meledak hanya 50 m dari rumah kami, tentang didatangi tentara patroli pukul 4 pagi, tentang ditodong senjata gara-gara kemalaman datang dan berbarengan dengan isu akan ada penyerbuan, tentang truk yang mogok dan kami harus berjalan di black zone, tentang… wah, masih banyak deh. Cerita yang masih terekam kuat dan membuat saya menjadi saya yang seperti sekarang ini.

Waktu lagi kerjakan pelatihan tentang “principle approach to humanitarian action”, ada satu gambar yang benar-benar membekas di pikiran saya (masih banyak sih sebenarnya). Ada gadis kecil, cantik banget, sedang bersandar di  tembok yang banyak lubang-lubang bekas peluru. Ketika di zoom-out, ya tuhan, kakinya hanya satu. Dia salah satu korban ranjau darat. Itu hanya satu contoh alasan kenapa saya mau tetap bekerja di tempat seperti itu, yang sampai saat ini masih belum dipahami oleh orang-orang terdekat saya.

Going back to the field. Soon.

Memilih…

Thursday, August 28th, 2008

…selalu sulit. Tadinya udah menetapkan hati dan mengambil keputusan. Tapi  kok… tiba-tiba… ada kejadian lain.

Kalau kesempatan ini dilepas, belum tentu dapat lagi. Kalau diambil, gimana  dengan mimpi gue yang lain…

Bingung.

Keracunan Makanan

Saturday, August 23rd, 2008

Mengendalikan pikiran memang susah. Dua hari lalu sempat terlintas bahwa walau sudah hampir setahun di Inggris, saya belum pernah merasakan  pelayanan NHS (National Health Services). Sebagai pelajar dengan masa sekolah lebih dari 6 bulan, saya mendapat fasilitas asuransi gratis dari NHS, hanya perlu registrasi di awal tahun ajaran. Dan bahaya-nya pikiran saya, itu akhirnya kejadian kemarin. Saya keracunan makanan 2 jam setelah makan siang, dan alhasil pergi ke A&E (Accidental & Emergency) di Euston Road, di sebelah UCL  hospital.

Sedihnya tinggal sendirian di negeri orang (makanya, ga usah iri! Hehehe). Setelah muntah-muntah di sekolah, jalan pulang dalam keadaan teler, di rumah pun masih muntah-muntah. Sampai agak-agak dehidrasi gitu. Rasanya hampir sama seperti waktu keracunan mie kerang di Meulaboh (yang bikin kapok ga mau makan kerang sampai sekarang). Sambil terkapar di tempat tidur, mikir-mikir, mending ke dokter atau kaga. Sempat sih minum susu (dan muntah lagi) dan minum norit (dan muntah lagi). Jadi seperti cuci lambung hehe Mikir pergi ke dokter soalnya hari Jumat, dan Senin pun libur (Bank Holiday). Akhirnya memutuskan pergi, walaupun tahu pasti harus nunggu lama.

Ok, akhirnya saya mengakui bedanya negara maju dan negara berkembang (setelah selama ini saya ngomel-ngomel terus soal pelayanan publik di sini). Sistem pelayanan di klinik-nya bagus banget. Efisien. Tata ruang-nya efektif… Sistem triage-nya sip (semua harus lewat ini dulu). Nggak ada tuh anak-anak  nangis di ruang tunggu, karena pasien anak punya jalur khusus. Saya pun tidak perlu bawa-bawa kartu, karena data-nya kan emang udah tersimpan (saya bisa datang ke klinik/rumah sakit mana pun). Bisa ditiru nih kalau seandainya nanti punya klinik. Heran kan, kok bisa-bisanya memperhatikan segala hal? Ya iyalah… nunggu hampir 3 jam gitu haha tapi untung juga, karena sekaligus observasi kondisi sendiri, yang ternyata jauh membaik setelah 2 jam.

Waktu dipanggil periksa, dokternya udah ga percaya tuh saya sakit. Malah kita berdua akhirnya ketawa-ketawa membahas makanan kantin sekolah. Sempat juga tes kehamilan (walaupun saya udah jawab “very very certain” hahaha). Lumayanlah, tes kehamilan gratis hehe Tapi bersyukur banget bahwa saya baik-baik saja. Soalnya banyak banget kerjaan yang menunggu.

Btw, perawat-nya (cowok) keren banget *wink wink*…. Harusnya dia ikut main di serial ER ;)

Durian

Wednesday, August 20th, 2008

Dscn1331
Lagi bincang-bincang soal “buah tropis”, dan tentunya kami membahas durian. Kata satu teman yang pernah backpacking  di Indonesia: “fruit with horrible smell and horrible taste” –tapi dia juga belum nyoba sih, keburu takut duluan hehe saya sebagai pencinta berat durian jelas ga terima. Durian itu enak banget lagiiiiii…. Kalau jalan ke tempat yang jual durian, pasti saya cari. Dulu pernah bela-belain keliling-keliling pake becak di Makassar dan sempat jalan jauh banget di  Manokwari buat makan durian.

Rekor makan durian terbanyak waktu di Maluku. Waktu itu lagi musim-musimnya dan yang jual durian banyak banget, malah kadang sampai ga dijual, mereka kasih begitu aja. Rekor makan terbanyak yaitu 10 buah hehe iya, 10  buah durian beneran (masa musti dibilang 10 kepala?), bukan 10 potong. Kalau  ga salah waktu itu lagi pengobatan di pesisir Maluku, dan selain ada yang kirim durian, setiap lapor ke Pak Raja (kepala desa) pasti kami dikasih durian. Jadi  saya dan teman-teman satu tim malah senang banget keluyuran di kampung-kampung, lumayan dapat durian gratis. Enak banget lagi. Ukuran sih ga besar, tapi manis banget dan bijinya kecil.

Saya jadi teringat sama satu kolega yang sama-sama bertugas di Maluku, tapi dia ga keliling. Base nya dia di Wamsisi, Buru Selatan. Dokter “gila” ini dekat banget sama masyarakatnya, dan sering banget kumpul-kumpul sama mereka termasuk begadang malam-malam nungguin durian jatuh (hey, apa kabar Pak Dok? Kabarnya udah sekolah lagi ya?). Waktu saya ada jadwal pengobatan di daerah yang masih masuk daerah tanggung jawabnya, kami mampir ke  Wamsisi. Biasa lah, labuh jangkar dan berniat besok paginya aja baru lapor. Tahu-tahu pagi-pagi ada kehebohan gitu. Kirain ada Emang Nelayan mau jual ikan, tahunya dia datang pake sampan sambil bawa durian sebanyak 7 KARUNG! Ya ampun, langsung kami sambut dengan suka cita. Kalau ga salah sempat juga kami berfoto dengan durian-durian itu (cuma karena masih jaman kamera  analog, musti dicari nih klise dan foto aslinya). Yang jelas, instruksi saya waktu itu sangat jelas: jangan sampai ada satu pun yang terbawa ke Ambon, atau dalam kata lain…. Ayoooo habiskan, kita pesta! :) Dan misinya berhasil, karena teman-teman di Ambon ngomel-ngomel ketika kami ceritakan soal kiriman durian ini.

Pengen makan durian jadinya. Di Bandung lagi musim ga?

Catatan: fotonya waktu berburu durian di Manokwari.

Sindroma mau pulang

Friday, August 15th, 2008

Ok, pake fleece di musim panas mungkin terdengar absurd. Tapi suhu akhir-akhir ini turun jadi sekitar 13 derajat, bahkan beberapa hari lalu sempat hujan es. Kemaren pas pulang lewat taman, angin kencang banget dan daun-daun pada berguguran… sampe bingung, jangan-jangan udah musim gugur nih? Untung pake fleece. Malah terpikir besok-besok musti pake syal, tapi kayaknya berlebihan hehe
Sudah hampir 1 tahun di sini, bulan depan pulang! Cihuy… sebenarnya kalau dibilang kangen, ngga juga. Paling beberapa waktu di Bandung pasti udah gelisah ingin pergi lagi. Kangen nasi jelas tidak, karena sering banget makan nasi, hampir tiap hari malah. Kangen teh botol, iya! Kangen gorengan, iyaaa! Tepatnya kangen makanan-makanan ga sehat hehe di sini kan orang tergila-gila makanan sehat. Sampai telur aja harus “free-range”… tahu kan maksudnya? Itu lho, ayam-ayam petelur itu bebas berkeliaran dan bertelur di mana saja, dan hanya boleh dikandangkan pada waktu malam. Konsumen ga akan mau beli kalau tahu ayam-ayam petelur itu tinggal bersempit-sempit di kandang hehe hebat kan!
Saya termasuk yang sering bepergian. Kalau istilah yang diberikan seorang teman, setelah 6 bulan biasanya terkena gatal-gatal dan timbul gaduh gelisah hehe nah, pikir-pikir, ternyata saya punya sifat yang “kurang menguntungkan” sebagai seorang traveller, yaitu gampang betah dan gampang dekat dengan orang, jadi tiap mau pergi bawaanya sedih :p Sifat jelek lain? Benci packing! Dan ini diperparah dengan hobi beli buku dan mengumpulkan memento ke mana pun saya pergi.
Mungkin tepat kalau saya beri istilah “sindroma mau pulang” karena gejala-gejalanya biasanya sama: ricuh selesaikan kerjaan yang sekarang (saat ini: selesaikan dissertation yang udah bikin stress berminggu-minggu lamanya), pusing dengan mengirim barang terutama buku-buku ke rumah ortu di bandung (ada minimal 40 buku yang saya beli selama di sini), kasih barang ke charity, recycling barang-barang, nutup rekening bank, farewell parties (ini bentuk jamak) alias pamitan sama teman-teman, mendatangi tempat-tempat yang wajib dikunjungi (mumpung di sini), atur jadwal perjalanan termasuk beli tiket dll….wah, banyak deh pokoknya! Udah sering seperti ini tapi tetep juga masih ricuh. Ohya, ada satu lagi deng…persiapan mental buat hubungan jarak jauh hehehe :p