In the Front Line

Ketemu seorang sahabat yang baru kembali buat selesaikan tesisnya. Senangnya. Dia salah satu teman berbagi cerita soal hidup dan bekerja di daerah konflik, walaupun dibandingkan dia, saya tidak ada apa-apanya deh. Dia dokter yang negaranya dilanda perang dalam beberapa tahun terakhir. Sementara saya dikejar deadline kurang dari 1 minggu lagi, dia “beruntung”  dapat perpanjangan selama 3 minggu karena akses dia ke data diblok sama …. Ok, saya ga berhak buat bilang rasanya. Pokoknya dia stress dan kami menghabiskan waktu beberapa menit hanya membicarakan “hal-hal yang tidak masuk akal”. Makin gila aja nih dunia. Kalau sudah ngumpul sama teman-teman yang istilahnya kerja “in the front line”.. sering kepikiran…. Kenapa sih ada perang? Kenapa orang bisa bunuh orang lain?

Apa saya tertarik dengan konflik karena “kebetulan” kerja di tempat seperti itu, atau karena saya bekerja maka saya jadi tertarik soal konflik? Dunno which is which. Tapi setelah lebih dari 5 tahun mencoba belajar tentang ini…. Pelajaran paling berharga adalah ternyata tidak semua bisa diketahui oleh masyarakat umum. Saya setuju bahwa masyarakat secara umum berhak tahu dan belajar dari pengalaman dan sejarah sangat berharga, tapi isi kepala orang dan bagaimana bereaksi terhadap suatu hal itu berbeda. Belum lagi kalau ada “pemelintiran” berita. Cerita yang ga selesai, isu yang berubah jadi fakta, fanatisme yang membuat buta… sigh. Seram.

Standar yang berubah juga mungkin sulit diterima oleh keluarga dan teman. Pertama kali kerja saya masih takjub dengan beberapa hal ‘ajaib’ dan ingin berbagi cerita,  tapi lambat laun saya sadar ini hanya menambah kecemasan di pihak mereka dan mengurangi sensitivitas di pihak saya. Akhirnya jadi jarang atau hampir tidak pernah cerita lagi. Saya ingat ditelepon kakak ketika keluarga di rumah menonton berita ada bom ditemukan salah satu tempat ibadah di dekat base saya (sementara versi kami, bom itu hanya bungkusan ga jelas dan tempatnya juga jauh pula). Tentunya saya tidak bercerita soal bom yang meledak hanya 50 m dari rumah kami, tentang didatangi tentara patroli pukul 4 pagi, tentang ditodong senjata gara-gara kemalaman datang dan berbarengan dengan isu akan ada penyerbuan, tentang truk yang mogok dan kami harus berjalan di black zone, tentang… wah, masih banyak deh. Cerita yang masih terekam kuat dan membuat saya menjadi saya yang seperti sekarang ini.

Waktu lagi kerjakan pelatihan tentang “principle approach to humanitarian action”, ada satu gambar yang benar-benar membekas di pikiran saya (masih banyak sih sebenarnya). Ada gadis kecil, cantik banget, sedang bersandar di  tembok yang banyak lubang-lubang bekas peluru. Ketika di zoom-out, ya tuhan, kakinya hanya satu. Dia salah satu korban ranjau darat. Itu hanya satu contoh alasan kenapa saya mau tetap bekerja di tempat seperti itu, yang sampai saat ini masih belum dipahami oleh orang-orang terdekat saya.

Going back to the field. Soon.

2 Responses to “In the Front Line”

  1. Ancilla YSI Says:

    mengertiiiiiiii…
    aku menemukan arti hidup yang lain… aku selalu bilang, sebenarnya mereka yang membantuku…

  2. Ijul Says:

    lho, cil… kok tumben udah blogwalking lagi, udah ga terlalu hectic? Apa kabar Oz? iya nih, aku kangen balik lagi kerja, padahal pas kerja nya sih ngomel2 mulu hehe :p

Leave a Reply