Pak Ayo Pergi

July 13th, 2008 by yuliawidiati

Yulia_4_006
Setiap lihat Pak Polisi di sini dengan helm hitam-nya yang khas, saya selalu susah payah menahan senyum. Bukan, bukan  karena tampang mereka aneh atau menggelikan, tetapi karena  kenangan saya pada “Pak Ayo Pergi” di serial “Pasukan Mau  Tahu” karya Enid Blyton yang saya baca waktu kecil. Saya belum pernah lho lihat  polisi bertampang konyol selama di sini. Yang ada mereka keren-keren dan yang patroli biasanya malah muda-muda (dan keren !). Pikir-pikir kok bisa ya Bu Enid bikin tokoh semacam Mr Goon itu? Waktu kecil, saya kasihan lho  sama dia. Sekarang juga. Memangnya gampang jadi polisi di desa kecil? Dengan anak-anak yang hobi kelayapan pula hehe yang jelas, dia ga korupsi. Kalau kurang pintar, ya gimana lagi… tapi kan bukan salah dia juga :)

Selama tinggal di sini, kadang saya takjub betapa hal-hal yang hanya bisa saya imajinasikan waktu kecil sekarang bisa saya lihat langsung. Kalau  rumah-rumah tradisional dengan bata merah dan cerobong asap, jelas. Taman-taman kecil dengan gereja yang indah, juga iya. Juga “English breakfast”
yang dirindukan setiap anak inggris setiap liburan sekolah… (guys, asli ini sarapan ‘berat’ banget… walau katanya sarapan nasi goreng telur itu berat, tapi mau komentar apa soal sarapan telur goreng, sosis, bacon, kacang merah, dan roti bakar?). Limun Jahe. “British weather” yang selalu bikin jengkel. British coast. Puri dan kastil yang menakjubkan. Kisah raja, ratu dan ksatria. Sekolah-sekolah berasrama di country side nya Inggris. Belum lagi kalau ditambah imajinasi saya saat baca Lord of the Ring dan Harry Potter. Daerah-daerah berakhiran “shire”. Atau sekedar jalan di stasiun King’s Cross dan berpikir… Harry Potter biasanya jalan lewat mana ya? Waah, pokoknya seru deh! Waktu  saya lagi jalan di taman dan mengobrol dengan seorang ibu yang lagi ajak  jalan-jalan anjingnya, ibu itu bilang gini: “kamu sama sekali tidak seperti orang asing. Kamu seperti sudah berada di sini bertahun-tahun lamanya”. Hm, menarik. Mungkin roh saya sudah ada di sini bertahun-tahun yang lalu hehe law of attraction? Who knows?

Visa, Pasport

June 19th, 2008 by yuliawidiati

Hidup memang lucu.

Hari ini saya ada appointment dengan Keduataan Italia. Jam 11. Setelah semua  perjuangan (halah, berlebihan!) mempersiapkan dokumen-dokumen persyaratan….akhirnya saya berhasil di-interview dan dengan sukses DITOLAK!

Oke, emang salah saya juga sih, ga teliti. Karena ga perhatikan tanggal expired pasport, yang ternyata akhir tahun ini. Sedangkan memang persyaratan kunjungan itu minimal pasport berlaku 3 bulan setelah waktu perjalanan. Jadi Bapak yang di kedutaan itu dengan dingin mengembalikan semua berkas saya. Masih untung dia belum minta pembayaran visa. Dia bilang, setelah paspor diperpanjang, baru boleh bikin appointment dan apply lagi.

Jelas langsung bete berat. Mana masih cape, masih belum puas tidur, sempet nyasar waktu nyari kedutaan ini, ga bisa log-in ke website nya kedutaan Italia… pokoknya jengkel! Dan saya pusing mikirin semua pesawat dan tempat yang udah dibooking, dan juga asuransi perjalanan. Kalau batal berangkat ga lucu. Jadi ingat salah satu quote-nya Randy Pausch “The brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to give us chance to show how badly we want something”

Akhirnya dari Victoria Station saya ke Marble Arch, terus ke Kedutaan  Indonesia.  Ternyata tempat urus pasport bukan di situ, tapi di gedung di  belakangnya. Agak-agak ajaib gitu tempatnya, kalau mau urus paspor di  London nanti saya kasih tahu deh :) Tapi ternyata Bapak yang urus ini baik banget. Dia kan nanya, kenapa saya ga lapor waktu datang (dan saya baru tahu kalau harus lapor setelah baca pengumuman di tembok gitu)… Ampuuun Pak :p Saya berdalih bahwa ga tahu, dan dia cuma nyengir (mungkin entah sudah berapa puluh pelajar yang beralasan seperti itu). Terus dia kasih semua formulir yang harus diisi (termasuk formulir lapor kedatangan tadi… hehe)

Giliran harus kasih foto, bingung lagi jadinya. Ternyata background nya harus merah ya. Bapak ini senyum lagi, terus bilang bahwa kalau keluar dari kantor ini, terus ke pojok jalan ada restoran, nah di sebelahnya ada farmasi. Tanya aja di situ. Pas saya ke sana, benar juga. Di belakang kasir ada ruangan kecil untuk pas foto kilat. Fotografer nya cuma bilang : “for Indonesia Passport ?” Terus
udah deh, difoto. Dia malah nanya saya mau ambil foto yang mana (padahal  tahu kan, foto pasport mana ada yang bagus). Setelah bayar (sekitar 6 pound) saya balik lagi ke kantor tadi. Terus Bapak tadi periksa-periksa lagi. Minta cap jempol kanan (pantas ada bantalan stempel gitu di loket) dan kasih saya tanda terima buat ambil pasport minggu depan. Terus dia tempel secarik kertas yang menyebutkan bahwa semua pambayaran sekarang harus lewat postal order atau bank draft, ga boleh lagi pakai cash. Tapi bayarnya sih masih minggu depan, jadi masih ada waktu.

Sepulang dari kedutaan tadi, naik bis niat balik ke rumah. Tiba-tiba di tengah jalan sopir bis berubah pikiran, jadi bis hanya sampai Tottenham Court Road, ga sampai King Cross. Jadi masih harus jalan lagi, lumayan jauh. Terus kebetulan ada kantor pos, jadi sekalian beli postal order tadi (20 pound + 1.75 pound charge). Beres!

Pikir-pikir….memang selalu ada hikmahnya ya. Coba kalau saya ga urus  perpanjangan paspor sekarang, kemungkinan training di salah satu negara maju di Asia bulan Oktober-November nanti bisa juga batal…

Pray for me?

June 14th, 2008 by yuliawidiati

I was amazed with the things I learned in 9 months… but I
feel even more surprised with the things I learned in 3 weeks. I think we will never
know how well people cope with difficult situation under huge pressure.

My room looks very messy at the moment… well, I know, I am
not a tidy person anyway, but now it’s worse. Not nice. I just want it finish.
I want to have a nice sleep without dreaming about writing essay, writing exam,
attending group debate, presenting in front of strangers etc etc…

The good thing is; it is not a multiple choices exam. I hate
multiple choices. The tricks that lie beneath the possibly answers. There is mark’s
deduction if you keep it blank, or choose the wrong answer. I think it does not
reflect your knowledge. Fifty questions in 1.5 hours? Go figure…

Therefore, 4 questions in 3 hours seem more reasonable, and
another 3 hours in the second day. Although that means 4 short essays (plus
calculating all formulas)..about 2,500 word, in English (but of course! What
do you expect, my dear?) Will be very interesting ;)

One of my friends (the student’s representative) sent us
email… she said, “..And above all,
remember that you are bright, insightful people who have done amazing things in
the world and will do even more incredible things in the future.  You also can write these exams well…”
Very encouraging. Thanks a lot M!

I have put a card on my wall. Like a self-help mantra. I passed the exams with very good grade.

With God’s help. Friends, pray for me? :)

Puasa baca berita

June 6th, 2008 by yuliawidiati

Saya dan grup belajar saya belajar bersama tadi siang. Kami
membahas soal-soal ujian 2 tahun lalu, salah satunya tentang vaksinasi di Lombok. Saya sempat  kehilangan kata-kata ketika satu
teman membahas betapa kompleksnya kondisi di Indonesia. Untuk modul yang
terakhir, dia melakukan riset tentang Indonesia karena topik penelitian dia adalah soal bidan dan kaitannya dengan penurunan
angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Melihat dan mendengar “orang lain” yang dengan fasihnya membahas negeri saya tercinta,
termasuk memberikan langkah-langkah untuk menurunkan angka kematian ibu dan
bayi… membuat saya tercekat. Terharu. Mungkin sulit buat dipercaya, tapi
melihat BUKAN warga negara ini dengan begitu semangat mencoba memberikan solusi
untuk persoalan bangsa ini… Yah, mungkin saya terlalu sentimentil…

Masalah sudah sedemikian banyak, kenapa tidak berkonsentrasi
pada pemecahannya saja? Bahkan untuk itu pun masih dibutuhkan kerja sama yang
kuat dan kerja yang sangat keras. Saya benar-benar tidak bisa mengerti.

Teman satu gedung di sini menanyakan soal berita penyebaran
uang dari atas pesawat di Indonesia (?). Saya bilang, saya tidak tahu. Sedang puasa
baca berita tentang Indonesia,
sedang malas. Terakhir baca tanggal 1 Juni lalu dan itu membuat saya mual. Sungguh.

What a day!

June 1st, 2008 by yuliawidiati

I woke up on Sunday Morning at 8am. The first thought in my
mind was my exam in next 2 weeks. But I was sooo tired, try to remember what
happened yesterday. It was crazy!

After lunch, I decided to join the walk in my neighboring
areas,Bloomsbury. We started the walk in
Holborn tube station and it was ended in  British Museum .
I knew that Bloomsbury is famous with many
British Writers, but yesterday I realised there are sooo many! Virginia Woolf
is one of them, but definitely is one of the famous. I was surprised that she
was living in the same building, where I was taking my last modules. I also
learned that my university (UCL) is the first uni in England that accepted woman student
and allowed woman as a professor. Our walk’s guide was very good (thanks god
now it is not difficult for me to understand that thick British’s accent hehe).
I felt satisfied with the walk.

In the evening, my friend invited me to join him attending
the Irish’s music concert. We had light supper first, and if you know me (sure
you do!), you know very well who was cooking. We are approaching the summer
thus the days are longer. It was still bright when we reached Irish Cultural Centre in Hammersmith  The opening performance was brilliant (and those 2 young
men are handsome too!) and the main band, Solas, was fantastic! One guy can
play 5 instruments during the concert. I am jealous. How can people have such
talent?

When we were going back to the tube station, I realised that
we will have a very interesting night. The new major of London issued the new regulation that ban drinking – and carrying the open container – beverage contains alcohol in the
public transportation (tube, bus, train, DLR) per 1 June 2008. As a result,
many people (=thousands) arranged party in the tube in the night before, as a
protest. I understand that people can drink “responsibly” but if you see what
happened yesterday, I also understand why Boris Johnson issued this “unpopular”
regulation. The party mostly happened in Circle Line, but the line was
cancelled and some tube stations were closed. The crowd then jumped to other
lines, including my line. It was interesting to see that drunken peoples can
behave differently. Young man from the states asked why I didn’t join the party
and show me the pictures that he was taking by his Iphone, as if we are very
good friends for ages. And the other groups in  my left side just started the
random topic about film and ended up hugging each others because they have
similar interest :D Funny. And it was not finish, because when we walked to my accommodation,
we show a group of people wearing Batman and Robin costumes and they screamed
happily to us :D I think the police and tube officers were very busy. What a
day!

But for now…

May 24th, 2008 by yuliawidiati

But for now
Jamie Cullum

Sure I know you’d like to have me
Talk about my future
And a million words or so to fill you in about my past
Have I sisters or a brother
When’s my birthday how’s my mother
Well my dear in time I’ll answer all those things you ask

But for now I’ll just say I love you
Nothing more seems important somehow
And tomorrow can wait come whatever
Let me love you forever but right now
Right now

Some fine day when we go walking
We’ll take time for idle talking
Sharing every feeling as we watch each other smile
I’ll hold your hand you’ll hold my hand
We’ll say things we never had planned
Then we’ll get to know each other in a little while

But for now let me say I love you
Later on there’ll be time for so much more
But for now meaning now and forever
Let me kiss you my darling then once more
Once more

But for now let me say I love you
Later on I must know much more of you
But for now here and now how I love you
As you are in my arms I love you
I love you
I love you

Berpikir

May 18th, 2008 by yuliawidiati

London dingin sekali hari ini, dan hujan. Saya menggigil karena hanya menggunakan t-shirt dan sweater. Sok jago. Ramalan cuaca bilang temperatur hari ini sekitar
8 derajat. Gila. Setelah minggu lalu sempat 27 derajat dan 2 hari lalu drop
menjadi 12 derajat. Saya sudah cukup lelah dengan diri sendiri yang sangat
moody.. dan perubahan cuaca di sini
hanya memperparah kondisi saja. Sambil berjalan, dari sudut mata saya melihat
banyak orang yang merokok di luar gedung…
Tidak tertarik sama sekali.
Pikiran saya tidak berada di sini.

Dua hari lalu
saya dan 2 teman mengobrol seru sekali. Satu asal Kanada (A) dan satu asal Afganistan
(F). A baru kembali dari Oxford setelah mendapat panggilan interview dan melakukan
presentasi untuk salah satu tawaran perkerjaannya.. dan F bercerita tentang
diploma tropical medicine yang baru dia dapat (satu lagi contoh gila
teman-teman di sini… alih-alih “Easter break”, dia malah mengambil kursus singkat untuk ambil diploma ini).
Kebetulan saat itu saya sedang pakai
sweater dengan lambang salah satu lembaga PBB untuk anak-anak, jadilah kami
mengobrol mengenai rencana setelah lulus. Topik lama yang selalu baru. Namun
teman F ini memberikan opini yang membuat kami berpikir.

A menanyakan pendapat kami tentang tawaran pekerjaan yang
dia terima. Sebenarnya sangat menarik, tapi dia masih kurang sreg karena dia
inginnya bekerja untuk perencanaan, monitoring, evaluasi. Do the right thing since the very beginning. Dia memang pernah
bercerita soal proyek dia (nutrisi) dengan sebuah institusi pendidikan yang
kacau balau gara-gara tidak melakukan konsultasi dengan masyarakat. Bukan salah
dia kareana dia bergabung setelah proyek berjalan, tapi dia bisa dibilang
menjadi “martir” karena harus berhadapan dengan masyarakat dan menjelaskan
semua hal ketika keadaan menjadi parah. Nah, kalau F ini lain lagi. Saya salut
sama dia karena dia masih sangat sopan dan bijak walaupun kami tahu dia sangat
marah soal “invasi” yang terjadi di negaranya, bahkan sampai sekarang. F ini
dokter anak. Dia beralih ke public health karena dia melihat kebutuhan yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Dia bilang, walaupun punya rencana jangka panjang, dia tidak bisa berencana terlalu lama, misal 10 tahun. Harus fleksibel. Coba lihat apa yang terjadi di Afganistan dalam 5 tahun terakhir. Dia
ga bilang bahwa semua rencana dia berantakan… tapi dia bilang bahwa kita selalu
harus siap dengan perubahan. Suatu hal yang sangat diresapi kebenarannya
(apalagi kami berdua sama-sama belajar tentang “conflict and health” semester
lalu).

Mantan bos pernah “mengajari” saya menggambar peta soal
pilihan-pilihan hidup. Salah satu alasan kenapa sekarang saya ada di sini, dan
kemana kira-kira arah setelah lulus. Tapi entahlah, tadi malam banyak sekali
hal yang beradu dalam pikiran saya. Beberapa hal penting yang terjadi dalam
beberapa bulan terakhir membuat saya berpikir untuk mendisain ulang peta saya.
Tapi terus kemana? Bagaimana? Apakah saya berani? Apa saya siap?

Dan hujan masih saja turun dan saya masih  terus berjalan. Deep
sigh
.

Practice make perfect

May 18th, 2008 by yuliawidiati

Saya saat ini memang
mempunyai 2 buah hp. Satu siemens M55 yang saya beli tahun 2003 (untuk nomer
indonesia yang bisa roaming internasional) dan satu lagi siemens A70 yang saya
beli tahun 2007 di Sorong (untuk nomer inggris). Alasan ga ganti karena
sekarang siemens udah ga ada :) Ga sih, karena merasa ga perlu aja. Toh keduanya masih bisa dipakai dan saya ga merasa perlu dengan aplikasi-aplikasi
yang canggih.

Tapi kalau
kemampuan mengetik untuk sms, DULU saya terbilang jago. Mengetik lebih cepat
dengan tangan kiri, bahkan bisa mengetik sambil makan, sambil mengobrol, ngetik
sms berbeda dengan dua tangan (seperti jurus film silat).. pokonya parah
deh ! Sampai pernah jempol tangan kiri sakit karena kebanyakan  sms :D Kalau ga salah itu sehabis sms yang menghabiskan 70 ribu dalam sehari hehe

Nah, di sini saya
jarang sekali pake hp, termasuk sms. Alasan banyak… mahal, juga ga ada waktu
sih.
Jaraaaang banget pake hp. Kan nelepon ke indonesia pake phonecard (pake landline) yang murah banget. Sms temen… sms siapa ? Beda waktu bikin malas. Hubungi teman di
sini, lebih cepet pake email atau messenger. Jadinya  sering lupa punya hp,
kadang sampai berhari-hari mati karena ga di-caz juga tenang-tenang saja
(padahal kalo inget dulu bisa bete banget seandainya ga ada sinyal haha)

Kerugiannya,
kemampuan menurun drastis, hiks :( Tadi balas sms temen di indo… ya  ampun,
ngetik jadi lama banget. Pake mikir dan pake lama… jadi inget bapak/ibu yang
suka bikin gemes kalau sms karena ngetiknya lama banget. Nah, sekarang kena
batunya deh :p Terbukti memang berlatih itu perlu (tapi khusus untuk hal
ini, rasanya ga rugi juga kehilangan kemampuan ini. Untung malah, jadi ga boros
kan!)

Renungan

May 11th, 2008 by yuliawidiati

Ada hal menarik saat kuliah “tropical environmental health” beberapa hari yang
lalu. Pak pengajar memperlihatkan salah satu penelitian soal penggunaan “latrine”
atau toilet… salah satunya adalah: orang-orang yang tidak pernah melihat
kondisi lain selain yang dia lihat sehari-hari (bahkan mungkin seumur hidupnya)
akan terbiasa dengan kondisi yang dia hadapi, walaupun mungkin jorok dan
menjijikan bagi orang lain. Penelitian itu menunjukkan bahwa orang-orang yang
lebih “sadar” akan kebersihan dan perbaikan sanitasi biasanya adalah
orang-orang yang pernah bepergian ke tempat lain dan melihat kondisi yang
berbeda dan mengubah persepsinya terhadap sesuatu. Menarik (soalnya saya pikir
ini bukan hanya soal sanitasi, tapi gaya hidup secara umum).

Hal lain yang menarik adalah soal “ketidakpedulian” terhadap
sesuatu. Selama ini saya (bukan kita) lebih fokus pada daerah rural yang
cenderung kurang diperhatikan dan dipinggirkan (dan ini jelas terjadi untuk
banyak hal). Namun ternyata persoalan di daerah urban juga sama parahnya. Saya
tahu kalau daerah-daerah “slum” di perkotaan bukan merupakan tempat yang layak
huni, tapi saya jadi bingung memikirkan apa tindakan yang seharusnya diambil
pemerintah untuk memecahkan persoalan ini? Ilustrasi yang diberikan oleh
pengajar sangat mengerikan, karena dari daerah-daerah kecil itu, pencemaran air
tanah bisa sangat parah dan bahkan bisa mencemari satu kota atau lebih luas lagi. Jangankan mimpi
bisa minum air dari keran seperti di sini, punya air mengalir ke setiap rumah setiap
hari saja masih menjadi impian bagi sebagian besar penduduk. Saya membayangkan
tinggal di
Jakarta yang semrawut dan acapkali dilanda banjir, yang berarti: air limbah bercampur
dengan air tanah. Ada satu foto pengolahan air limbah di sini (yang akan kami kunjungi minggu depan).
Pada prinsipnya, di foto itu adalah proses pertama yaitu “pemisahan” air dari
sampah-sampah besar seperti botol-botol atau kantung plastik. Bapak itu bilang,
kalau di negara-negara berkembang bisa lebih banyak lagi, bahkan kadang ada
bayi yang tersangkut di situ…. Ooh, tidaaaaak (*bikin mual*)

Inggris termasuk negara yang sudah melakukan pengolahan
terhadap air limbah. Tapi duluuuu… sekitar tahun 1850-an, sungai Thames yang
terkenal itu pernah tercemar dengan sangat parah sehingga anggota parlemen
Inggris tidak bisa rapat karena tidak tahan dengan baunya (House of Parliament
letaknya tepat di pinggir sungai Thames). Juga
sebelumnya terjadi wabah cholera yang sangat parah. Singkat cerita,
dilakukanlah perbaikan sistem… dan beberapa “trial n error”… jadi sistem
pengolahan limbah dan suplai air bersih yang bisa langsung diminum ke rumah-rumah bukanlah suatu sulap yang terjadi dalam waktu singkat.

Kalau berpikir soal Ciliwung… atau Cikapundung di Bandung…. Masa
sih masih harus menunggu seratus tahun lagi? Tapi musti mulai dari mana? (Ga
usah bilang “mulailah dari diri sendiri bla bla bla"… karena, contoh,  kalau pun buang sampah dengan tertib tapi
terus ga ada sistem pengolahan yang benar, gimana dong? Sistemnya yang ga ada!)

Ini bukan omelan, hanya sebuah renungan (selingan saat
menulis essay untuk tropical environmental health)

Memilih

April 27th, 2008 by yuliawidiati

Maluku_picture_150_2

Maaf, postingan ini agak “berantakan” karena terlalu banyak ide di kepala tapi sulit menuangkannya.
Teman-teman bilang saya “picky”.. ya iya lah, memangnya memutuskan sesuatu itu gampang? Memilih itu berarti sudah tahu konsekuensi yang bakal ditanggung, termasuk yang baik dan buruk. Kalau singkatnya sih: sudah satu paket. Ga seru dong kalau hanya ingin yang senang-senangnya saja, walau pastinya udah pakai berdoaaa… semoga… semua baik-baik saja :)
Topik ini terlintas gara-gara obrolan bersama teman-teman di sini saat makan. Awalnya sih ngobrol soal kebiasaan traveling : seperti… hayooo kamu tipe seperti apa ? Apa tipe yang selalu melakukan riset terlebih dahulu, plus tanya-tanya dan kontak orang-orang untuk meminimalkan kejadian tak diinginkan? Atau tipe yang pilih tempat, packing, terus pergi ke stasiun (bis, kereta) atau airport dan melakukan perjalanan secara spontan? Atau kedua-duanya? Ternyata jawabannya bermacam-macam lho… Yang menarik, hampir semua (atau bisa dibilang semua) teman saya itu ya emang traveler. Udah keliling berbagai tempat di dunia tapi masih saja iri dengan pengalaman orang lain hehe Bisa-bisanya si teman yang udah jalan mencoba Inca Track di Macchu Piccu bilang merasa iri untuk wisata kuliner di Asia :) Sifat dasar manusia sih, tapi kan kita ga mungkin memperoleh segala yang kita inginkan.
Nah, gara-gara obrolan itu lah kami membahas soal “memilih”
Jadi sebenarnya terlalu banyak pertimbangan sebelum memilih itu menguntungkan atau merugikan sih? Tergantung. Beberapa hal menarik yang disimpulkan dari pembicaraan kami adalah, memilih itu selalu sulit :D Terlalu banyak keinginan, terlalu banyak pilihan. Dan seperti tadi sudah dibilang, semua ada konsekuensinya. “when I was younger…” (maaf, saya diprotes ketika bilang ‘when I was young’, terutama oleh mereka yang sudah beruban dan umur kepala 4 atau 5. Kalau diterjemahkan secara bebas, komentarnya adalah: “Maksud lo?” Padahal saya memang sudah merasa tua lho…) … lanjutkan lagi, dulu-dulu memilih rasanya “lebih” gampang. Banyak keinginan dan rencana, dan tinggal kerjakan mana yang lebih dulu. Seiring bertambah umur, konsekuensi makin rumit, apalagi setelah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita berangsur-angsur dipanggil yang kuasa. Dan ada makhluk-makhluk baru yang menghiasi hidup kita dengan keajaiban di setiap harinya. Memilih menjadi suatu hal yang tak terhindarkan, dan selalu membutuhkan energi besar untuk melakukannya.
Walau sering kali bertindak impulsif, saya termasuk orang yang “picky”. Yaah, kalau ternyata pilihannya salah, dinikmati saja. Namanya juga manusia. Makanya perlu banyak-banyak berdoa kan. Kadang proses lebih penting dari hasil akhir (memangnya siapa yang tahu apa yang akan terjadi sebenarnya?)
Sebagai penutup, kami sempat bikin “kuis” soal alat transportasi yang paling digemari. Saya paling senang naik kapal laut. Yup, bener, kapal laut. Ga ada yang bisa ngalahin perasaan saat jangkar ditarik, terus meninggalkan pelabuhan. Terus sendirian di tengah laut (saya paling doyan duduk sendirian saat teman-teman lain sudah terlelap), hanya dikelilingi garis cakrawala. Memulai hari dengan sunrise dan ditutup dengan sunset. Kadang laut tenang bagai kaca, kadang juga badai. Membaca peta, melihat kompas, mengarahkan kemudi. Kemudian melihat garis pantai untuk pertama kali, berarti ada kehidupan yang lain, bertemu orang baru, beristirahat untuk kemudian bersiap-siap melanjutkan perjalanan kembali. Yup, life, itself, is a journey. Dan bersyukurlah kalau kita masih diberi kesempatan untuk memilih, karena banyak orang yang tidak mendapatkan keberuntungan itu.